Terpopuler

Suatu perkara yang amat besar dan mengerikan

Kisahataupunucapanparaulama.blogspot.com   SEMUA MANUSIA AKAN DIGIRING SESUAI AMALNYA Ayat-ayat Al-Qur'an 1). Allah Azza wa Jalla berfirman : يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَٰنِ وَفْدًا • وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرْدًا   [مريم : 86-85] "(Ingatlah) hari (ketika) kami mengumpulkan orang-orang bertakwa kepada Allahur-Rahman sebagai perutusan terhormat". "Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga". (S.19;85-86) 2). Allah Swt berfirman : ........... وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ    [البقرة : 203] "Dan bertakwalah kamu kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan digiring kepada-Nya". (S.2;203) 3). وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا   [الكهف : 47] "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan

Abu nawas


Kisahataupunucapanparaulama.blogspot.com



 • ABU NAWAS

Abu Nawas dikenal sebagai seorang sufi. Yang berasal dari Persia lahir pada 750 M di kota Ahvad dan meninggal pada tahun 819 M di Negeri Bagdad. Ketika beranjak dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Selama di sana ia bergaul dengan orang-orang badui padang pasir sehingga lama kelamaan ia menjadi lancar berbahasa Arab dan dapat mengikuti kebiasaan orang-orang Arab layaknya seorang pribumi, setelah tinggal lama bersama orang-orang badui, Abu Nawas dan keluarga kemudian menetap di Bagdad hingga ia meninggal di sana.

Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan sebagai salah seorang penyair klasik terbesar sastra Arab. Salah satu yang diyakini sebagai syairnya yang sangat terkenal dan sering kita dengarkan adalah: “Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi.....dst.” Artinya: “Ya Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat masuk neraka jahim...dst.”

Menurut cerita, syair di atas merupakan ungkapan tobatnya kepada Allah SWT, karena ketika masa mudanya banyak yang menyebutkan jika Abu Nawas banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan kehidupan duniawi dan banyak melakukan hal-hal yang di luar pikiran dengan perilaku jenakanya. Ketika berpindah ke Bagdad, Abu Nawas dikenal dekat dengan khalifah Harun Al Rasyid, sehingga banyak cerita jenaka Abu Nawas yang berhubungan dengan Raja Harun Al Rasyid.

Kisah-kisah asli Abu Nawas berasal dari sebuah buku dongeng Alfu Lailatin Wa Lailah (Kisah Seribu Satu Malam). Dari kisah asli tersebut lahir kisah-kisah baru dengan cerita yang berbeda-beda pula, baik secara tertulis maupun yang pernah diceritakan secara lisan. Hal itu juga memungkinkan banyak cerita-cerita lain yang diadopsi atau diubah menjadi cerita Abu Nawas.



• Kisah :

Air susu yang tersipu malu (Arak)

Pada Suatu malam sang raja sangat murka melihat pekerjaan pengawal kerajaan yang tidak beres. Setelah diselidiki, ternyata para pengawal itu sedang mabuk-mabukan dan tertangkap basah oleh baginda raja.

"Wahai pengawalku semua, sudah sering aku peringatkan agar engkau jangan mabuk-mabukan." Ujar baginda.

Para pengawal kerajaan terlihat begitu gemetar. Mereka menunduk tidak berani menatap mata baginda karena merasa bersalah.

"Dari mana kalian mendapatkan arak-arak itu?" Tanya baginda.

Para pengawal terdiam tidak berani menjawab, hingga pada akhirnya baginda mengancam akan memberikan hukuman berat, barulah salah satu dari mereka mengakuinya. Akan tetapi untuk lolos dari hukuman baginda, mereka terpaksa berbohong dan melibatkab Abu Nawas dalam masalah tersebut. Karena berpikir jika Abu Nawas pasti bisa membantu mereka lolos dari hukuman sang Raja Harun Al Rasyd.

 "Ampun Baginda, Abu Nawaslah yang membawa arak-arak itu kepada kami, dan ia juga yang mengajari kami mabuk-mabukan." Kata salah seorang pengawal.

Meski sangat terkejut, baginda tidak percaya begitu saja jika Abu Nawas sampai bisa mengajak orang lain melakukan perbuatan buruk seperti itu. Baginda tahu jika itu adalah akal-akalan para pengawalnya saja untuk bisa lolos dari hukuman. Tetapi sebagai seorang yang bijak dalam mengambil keputusan, baginda tidak memiliki alasan untuk menolak pengakuan para mengawal sebelum mereka dapat membuktikannya.

Keesokan harinya berangkatlah beberapa pengawal kerajaan yang mabuk semalam ke rumah Abu Nawas. Sesampainya di rumah Abu Nawas, mereka kemudian memberitahukan maksud kedatangannya, menceritakan jika mereka sudah melibatkan Abu Nawas dalam masalah mereka.

"Bawalah botol ini ke hadapan raja dan katakan semua ini atas perintahku." Kata peimpin pengawal itu.

"Tunggu dulu, dengan minuman arak ini??....Aku pasti akan dihukum oleh raja." Kata Abu Nawas.

"Benar, tapi jika engkau berhasil lolos dari hukuman raja, aku akan memberimu sejumlah dinar." Ucap pengawal itu membuat kesepakatan dengan Abu Nawas.

"Lalu apa keuntunganmu dengan memberiku sejumlah dinar?" Tanya Abu Nawas.

"Jika engkau lolos dari hukuman raja, maka kami semua juga akan lolos. Gunakanlah kecerdasanmu untuk meyakinkan raja!!" Jawab pengawal itu.

Akhirnya Abu Nawas bersedia menerima kesepakatan tersebut. Dengan memegang sebotol arak berwarna merah, ia menghadap Baginda Raja Harun.

"Wahai Abu Nawas, apa yang engkau pegang itu?" Tanya baginda raja.

"Ini susu Baginda, rasanya enak sekali." Jawab Abu Nawas dengan gugup.

"Oh ya, bagaimana mungkin air susu berwarna merah, bukankah susu berwarna putih bersih," kata baginda keheranan sambil mengambil botol yang dipegang Abu Nawas.

"Betul baginda, semula air susu ini berwarna putih bersih, saat melihat baginda yang gagah rupawan, ia tersipu-sipu malu, dan menjadi merah merona." Jawab Abu Nawas yang mencoba mengambil hati raja Harun dengan menyebutnya seorang rupawan.

Mendengar kata-kata Abu nawas, Baginda kemudian tertawa meninggalkan Abu Nawas. Baginda Raja Harun Al Rasyd sebenarnya tahu bahwa yang di dalam botol itu adalah arak dan Abu Nawas tidak bersalah, namun karena penyampaian Abu Nawas yang membanggakan hati, baginda tidak memberikan hukuman kepada Abu Nawas dan juga para pengawal.

"Baiklah, untuk kalian semua aku maafkan, akan tetapi jika kalian ulangi lagi, maka hukumanya akan berlipat ganda !!" Titah sang raja pada para pengawal.

Akhirnya Abu Nawas pun mendapatkan hadiah sejumlah dinar dari para pengawal sesuai kesepakatan, karena telah berhasil melaksanakan tugasnya.



Tidak cocok menjadi ayam betina

Pada suatu hari, Baginda Raja Harun Al Rasyid mengunjungi sebuah tempat pemandian air hangat bersama para pembesar-pembesarnya. Tatkala mereka sedang asyik berendam dan bercengkrama dengan riuhnya, suasana menjadi senyap sesaat karena tiba-tiba baginda raja berkata kepada para pembesarnya.

“Wahai para menteriku, aku punya sebuah ide untuk untuk menjebak Abu Nawas.”  Kata baginda.

“Apa itu wahai paduka?” Tanya salah satu pembesarnya.

“Aku tidak akan memberitahu kalian sekarang. Aku hanya ingin mengundang Abu Nawas besok sore untuk berendam bersama kita di sini. Akan tetapi aku menghendaki kalian datang lebih awal ke sini mendahului Abu Nawas.” Kata baginda kepada para pembesarnya.

Para pembesar kerajaan keheranan, sebab baginda tidak memberitahukan maksud dan tujuannya, tetapi karena itu merupakan perintah, maka merekapun mematuhinya.

Besoknya pada sore hari. Seperti yang telah direncanakan, baginda raja bersama para pembesarnya tiba lebih awal di tempat pemandian itu. Baginda kemudian membagikan sebutir telur kepada setiap pembesarnya, termasuk dirinya juga memiliki sebutir. Setelah semua telur habis dibagikan, baginda kemudian memberikan arahan singkat kepada para pembesarnya tentang apa yang akan dilakukan untuk menjebak Abu Nawas. Setelah diberi arahan, barulah para pembesar mengerti apa yang direncanakan oleh baginda. Mereka kemudian langsung menuju kolam untuk berendam.

Sesaat setelah mereka berendam, Abu Nawas yang sebelumnya sudah diundang kemudian datang dan menyusul ikut berendam bersama baginda dan para pembesarnya. Abu Nawas mulai merasa was-was, karena ia menyadari bahwa baginda raja pasti telah merencanakan sesuatu untuk menjebaknya. Abu Nawas terus melamun memikirkan kira-kira apa yang akan dilakukan baginda terhadapnya kali ini.

Lamunannya tiba-tiba menjadi buyar karena ia tersentak oleh perkataan baginda raja,

“Hai Abu Nawas, ketahuilah bahwa aku mengundangmu mandi bersama di sini karena aku ingin engkau ikut dalam sebuah permainan yang sudah aku rencanakan.”

Abu Nawas bertanya pada baginda,

“Permainan yang seperti apakah wahai baginda?”

“Kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah di alami oleh manusia dan hanya bisa dilakukan oleh binatang.”

Kata baginda pada Abu Nawas.

“Mohon baginda jelaskan, apa maksud dari pemainan ini?” Tanya Abu Nawas semakin penasaran.

“Setiap orang dari kita yang ikut dalam permainan ini harus bisa bertelur seperti ayam. Oleh sebab itu barang siapa yang tidak bisa bertelur ia akan diberi hukuman.” Jelas baginda.

Setelah mendengarkan penjelasan baginda, Abu Nawas menjadi lesu kehilangan semangat. Ia berpikir kalau kali ini ia akan masuk ke perangkap baginda raja, karena sebelumnya ia benar-benar tidak mengetahui apa rencana baginda raja terhadapnya.

Abu Nawas terus terhanyut dalam lamunannya, sampai tiba-tiba perkataan baginda raja mengejutkannya. Baginda berkata kepada semua orang yang ikut dalam permainan termasuk Abu Nawas.

“Baiklah, sekarang kita akan memulai permainannya. Kita semua harus menyelam ke dalam air dan kemudian kembali naik keatas menunjukkan telur kita masing-masing.” Kata baginda tersenyum.

Mereka semua mulai menyelam, kemudian satu persatu hingga seluruhnya para pembesar dan baginda  mulai kembali muncul ke atas. Masing-masing mereka menunjukkan sebutir telur ayam. Abu Nawas masih menyelam di dalam air, ia masih berpikir bagaimana cara meloloskan diri dari hukuman. Karena paru-parunya sudah semakin terdesak, ia akhirnya segera ke permukaan untuk bernapas.

Baginda kemudian langsung bertanya kepada Abu Nawas,

“Dimana telurmu hai Abu Nawas? Hanya engkau yang belum menunjukkan pada kami.”

Dengan tiba-tiba Abu Nawas langsung berkokok seperti ayam jantan dengan suara keras. Baginda dan para pembesarnya merasa keheranan dengan tingkah Abu Nawas.

“Apa yang engkau lakukan Abu Nawas, dimana telurmu? Jika tidak ada engkau akan dihukum?” Desak baginga.

“Ampun tuanku, hamba tidak bisa bertelur seperti baginda dan para pembesar lainnya.” Jawab Abu Nawas dengan tenang sambil membungkuk memberi hormat pada baginda.

“Jika begitu, engkau harus dihukum!!” Kata baginda merasa senang karena dapat menjebak Abu Nawas.

“Tunggu dulu baginda!!” Kata Abu Nawas pada baginda.

“Apa lagi wahai Abu Nawas?” Tanya Baginda yang sudah tidak sabar memutuskan hukuman untuk Abu Nawas.

Abu Nawas kemudian menjawab,

“Sebelumnya izinkan hamba memberikan penjelasan untuk membela diri”.

Baginda mengangguk memberikan izin.

Abu Nawas kemudian menjelaskan pembelaannya.

“Mohon Ampun yang mulia, Bukannya hamba tidak bisa bertelur. Sebenarnya hamba bisa saja melakukan seperti para pembesar dan baginda lakukan. Tetapi hamba merasa diri hamba tidak cocok menjadi ayam betina, karena itulah hamba memilih menjadi ayam jantan. Bukankah ayam jantan tidak bisa bertelur? Hanya ayam betina yang akan bertelur.” Kata Abu Nawas kepada baginda sambil kemudian kembali berkokok keras seperti ayam jantan.

Baginda dan para pembesar hanya terdiam dengan wajah memerah karena malu telah dianggap sebagai ayam betina oleh Abu Nawas. Tanpa berkata apa-apa baginda beserta para pembesarnya segera memakai pakaian dan pergi meninggalkan pemandian, sedang Abu Nawas hanya tersenyum melepas kepergian mereka.


Nah itu lah penjelasan singkat tentang sosok abu nawas dan dua kisahnya. Masih banyak lagi kisah-kisah yang lainnya.

Postingan populer dari blog ini

Semua makhluk mendengar azab kubur, kecuali jin dan manusia

Keharusan Taubat dan diterimanya sebelum sekarat

Meminta rahmat-Nya dan meminta setetes dari samudra kasih sayang

Suatu perkara yang amat besar dan mengerikan

Allah akan langsung bertanya dengan seorang hamba tanpa penerjemah

Mahfudzot kata mutiara yang bisa menjadi motivasi

Disambutnya ruh baik dan ruh busuk

Dzikir shalat fardhu

Tentang Su ul khatimah dan hadirnya setan ketika sekarat

Dzikir dzikir pilihan