Terpopuler

Suatu perkara yang amat besar dan mengerikan

Kisahataupunucapanparaulama.blogspot.com   SEMUA MANUSIA AKAN DIGIRING SESUAI AMALNYA Ayat-ayat Al-Qur'an 1). Allah Azza wa Jalla berfirman : يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَٰنِ وَفْدًا • وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرْدًا   [مريم : 86-85] "(Ingatlah) hari (ketika) kami mengumpulkan orang-orang bertakwa kepada Allahur-Rahman sebagai perutusan terhormat". "Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga". (S.19;85-86) 2). Allah Swt berfirman : ........... وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ    [البقرة : 203] "Dan bertakwalah kamu kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan digiring kepada-Nya". (S.2;203) 3). وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا   [الكهف : 47] "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan

11 Kisah Abu Nawas



Kisahataupunucapanparaulama.blogspot.com



Kisah-kisah asli Abu Nawas berasal dari sebuah buku dongeng Alfu Lailatin Wa Lailah (Kisah Seribu Satu Malam). Dari kisah asli tersebut lahir kisah-kisah baru dengan cerita yang berbeda-beda pula, baik secara tertulis maupun yang pernah diceritakan secara lisan. Hal itu juga memungkinkan banyak cerita-cerita lain yang diadopsi atau diubah menjadi cerita Abu Nawas.

BERIKUT INI 11 KISAH ABU NAWAS :


 Menundukan gajah

Pada suatu hari yang cerah ketika Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai, ia tiba-tiba menjumpai  ada kerumunan orang. Ia pun merasa penasaran dan kemudian bertanya kepada seseorang disana,

“ Sedang ada apa disana?”  Tanya Abu Nawas.

“Sedang ada pertunjukan seekor gajah ajaib.”  Jawab orang itu.

“Ajaib bagaimana maksudmu?”  Tanya Abu Nawas kembali.

 “Gajah itu mengerti bahasa manusia, dan ia tidak mau tunduk kepada orang lain kecuali pemiliknya.”  Jawab orang itu.

Abu Nawas semakin penasaran dan segera menuju ke kerumunan untuk menyaksikan pertunjukkan. Sesampai dikerumunan, ia melihat sang pemilik gajah ajaib dengan bangga menawarkan kepada penonton akan memberikan hadiah yang besar seandainya mereka dapat menundukkan gajah tersebut agar mau menurut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Satu persatu penonton mulai mencoba melakukan berbagai cara agar gajah itu mau menganggukkan kepalanya. Namun belum ada satupun yang berhasil menundukkan gajah ajaib itu. Keadaan tersebut semakin membuat Abu Nawas penasaran, dan iapun tertarik ingin menguji seberapa gigihnya gajah tersebut tunduk hanya pada pemiliknya sehingga ia tidak mau menuruti orang lain. Abu Nawas Kemudian maju mencoba menundukkan gajah itu. ia berbicara pada gajah tersebut,

“Tahukah engkau siapa diriku?” Gajah itu menggelengkan kepalanya.

“Apakah engkau takut kepada diriku?”  Gajah itu tetap menggelengkan kepalanya.

“Takutkah engkau kepada tuanmu?”  Gajah itu mulai ragu dan Abu Nawas kembali bertanya,

“Jika engkau tidak takut kepada tuanmu, maka aku akan melaporkan kepada tuanmu.”  Desak Abu Nawas.

Mendengar ancaman Abu Nawas dengan spontan kemudian gajah itu langsung menganggukkan kepalanya. Gajah tersebut tidak teringat akan perintah tuannya untuk tidak menurut kepada orang lain.

Penonton bersorak ria melihat keberhasilan Abu Nawas menundukkan gajah yang katanya ajaib itu dan dengan berat hati bercampur malu, pemilik gajah itu menyerahkan hadiah yang dijanjikan kepada Abu Nawas. Pemilik gajah sangat marah dan kemudian memukul gajah tersebut.

Pada beberapa hari berikutnya pemilik gajah kembali mengadakan pertunjukan dengan maksud membalas rasa malu sebelumnya. Tapi kali ini dengan gaya yang berbeda, dimana penantang harus mampu menundukkan gajah itu agar mau menganggukkan kepalanya. Satu persatu penonton mulai mencoba dengan berbagai cara termasuk cara yang digunakan Abu Nawas sebelumnya. tetapi gajah itu tetap tidak mau tunduk dan menggelengkan kepalanya, karena sangat takut pada ancaman tuannya.

Tibalah giliran Abu Nawas untuk maju dan kembali melemparkan pertanyaan kepada gajah tersebut.

“Tahukah engkau siapa diriku?” Tanya Abu Nawas.

 Gajah itu mengangguk.

“Takutkah engkau kepadaku?”

Gajah itu tetap mengangguk.

“Takutkah engkau kepada tuanmu?”.

 Gajah itu masih mengangguk.

“Tahukah engkau gunanya balsem ini?” Tanya Abu Nawas seraya mengeluarkan bungkusan kecil yang berisi balsem dari sakunya.

Namun gajah itu tetap mengangguk.

Abu Nawas kembali bertanya,

“Apa boleh balsem ini ku gosokkan pada selangkanganmu?”

Gajah itu mengangguk.

Abu Nawas kemudian menggosokkan balsem selangkangan gajah. Gajah tersebut merasa sangat kepanasan. Abu Nawas kemudian mengeluarkan lagi dari sakunya bungkusan balsem, kali ini lebih besar dan dia kembali bertanya kepada gajah tersebut,

“Apakah boleh aku menghabiskan balsem ini untuk kugosokkan pada selangkanganmu?”  Tanya Abu Nawas.

Gajah itu sangat ketakutan dan lupa akan ancaman tuannya, dengan spontan kemudian gajah itu langsung menggelengkan kepalanya.

Untuk kesekian kalinya Abu Nawas dapat menundukkan gajah itu dan kembali pulang dengan membawa hadiahnya.



Membalas perbuatan raja

Pada suatu hari yang tenang tatkala Abu Nawas sedang tidak di rumahnya, datanglah beberapa orang pekerja yang diutus oleh Baginda Raja Harun Al Rasyd ke rumah Abu Nawas. Mereka berkata kepada istri Abu Nawas bahwa baginda raja semalam bermimpi jika dibawah rumah Abu Nawas terkubur harta terpendam yang tidak ternilai harganya, oleh sebab itu baginda raja memerintahkan kepada mereka untuk membongkar rumah Abu Nawas dan menggali  tanahnya. Istri Abu Nawas berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan para pekerja baginda raja tersebut, tetapi mereka mengacuhkannya dan terus menggali hingga dalam. Setelah siap menggali, mereka sama sekali tidak menemukan apa-apa kemudian kembali ke istana dengan meninggalkan lubang yang dalam di rumah Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas kembali ke rumah, alangkah kagetnya ia mendapati rumahnya yang telah hancur dan ada lubang besar di dalamnya. Istrinya pun menemui Abu Nawas menghidangkan makanan untuknya dan menceritakan apa yang telah terjadi pada rumah mereka. Abu Nawas tertunduk sedih mendengar cerita istrinya, ia seketika kehilangan nafsu makannya. Tidak habis pikir baginda raja tega memberi perintah semena-mena untuk menghancurkan rumahnya yang merupakan tempat dia dan keluarganya berteduh dan berkumpul menghabiskan waktu bersama . Ia semakin bertambah sakit hati karena baginda raja tidak meminta maaf kepadanya dan tidak pula mengganti semua kerugian atas perusakan paksa yang dilakukan pekerja istana.

Semalaman Abu Nawas tidak bisa tidur dan juga makan makanan yang telah dihidangkan istrinya. Dia terus memikirkan bagaimana caranya ia dapat membalas perbuatan baginda raja yang telah semena-mena padanya. Pagi pun tiba, tapi dia juga belum menemukan satu pun ide yang bisa digunakan. Makanan yang dihidangkan istrinya juga tidak dimakan, sehingga makanan itu menjadi basi. Maka datanglah lalat-lalat hinggap di makanannya, Abu Nawas kemudian memperhatikan lalat-lalat itu dan dengan tiba-tiba terbesitlah di dalam kepalanya sebuah ide, ia tertawa gembira karena telah mendapatkan cara membalas perlakuan raja.

Abu Nawas kemudian memanggil istrinya,

 “Tolong bawakan kepadaku sebatang besi dan sehelai kain untuk membungkus makanan”

 “Wahai suamiku, untuk apa engkau meminta itu” Tanya sang istri keheranan.

“Aku ingin membalas perbuatan baginda raja kepada kita,.  Jawab Abu Nawas.

Ia kemudian membungkus makanannya dan segera pergi ke istana menemui baginda raja dengan membawa makanan yang telah dibungkus beserta lalat-lalat yang hinggap di dalamnya, juga sebuah besi pemukul. Ia kemudian menemui baginda raja yang kebetulan sedang bersama para menterinya seraya membungkuk memberi hormat.

Abu Nawas berkata kepada baginda:

“Ampun Tuanku, kedatangan hamba kesini adalah untuk meminta keadilan untuk hamba dari tamu-tamu tak diundang yang datang ke rumah hamba dan tanpa seizin telah memakan makanan hamba.”

“Wahai Abu Nawas,  siapakah gerangan tamu-tamu yang tak diundang itu?”  Tanya baginda.

Abu Nawas kemudian menjawab sambil membuka bungkusan makanannya: 

“Lalat-lalat ini ya baginda, hamba ingin mendapatkan keadilan dari baginda atas perlakuan lalat-lalat ini kepada hamba, karena sebagai pemimpin negeri ini kepada baginda lah hamba meminta keadilan.”

Baginda raja kemudian kembali bertanya,

 “Wahai Abu Nawas, keadilan seperti apa yang engkau inginkan dariku?”

“Hamba ingin baginda raja memberikan sebuah izin tertulis untuk hamba, supaya hamba diberi kuasa untuk menghukum lalat-lalat ini kapanpun dan dimanapun hamba berada.”  Jawab Abu Nawas.

Baginda raja merasa bingung terhadap permintaan Abu Nawas yang sangat aneh, namun demi keadilan untuk rakyatnya ia pun dengan terpaksa membuat sebuah surat kuasa yang memuat tentang pemberian izin kepada Abu Nawas untuk menghukum lalat-lalat kapanpun dan dimanapun ia hinggap dan tidak ada seorangpun yang boleh melarangnya.

Setelah mendapatkan surat kuasa dari baginda raja, Abu Nawas tersenyum. Tanpa menunggu lama ia langsung mengeluarkan sebuah besi pemukul yang telah dibawanya dari rumah, kemudian langsung memukul lalat-lalat yang ada di makanannya. Lalu lalat-lalat terbang dan hinggap dimana-mana di kaca, di meja sampai di tempat makan baginda raja. Abu Nawas tidak peduli, terus memukul dimanapun lalat hinngap hingga seisi ruangan itu hancur berkeping-keping dibuatnya, semua perabotan dan barang-barang raja hancur.

Baginda raja dan pengawal istana tidak dapat melakukan apa-apa menyaksikan Abu Nawas menghancurkan semua benda-benda berharga di ruangan itu karena Abu Nawas telah mendapat izin tertulis dari beliau. Baginda sadar dan merasa malu kepada menteri-menterinya tentang apa yang telah dilakukan kepada rumah Abu Nawas dan keluarganya tanpa meminta maaf dan mengganti rugi.

Setelah puas memporak-porandakan seisi ruangan bagida raja, Abu Nawas kemudian kembali ke rumah dan menceritakan kepada istrinya apa yang telah ia lakukan ketika menghadap baginda raja.



Mengelabui raja

Setelah pembalasan Abu Nawas membunuh lalat-lalat dengan memporak-porandakan barang-barang baginda raja atas izin tertulis dari beliau. Baginda raja sangat kesal dan karena kekesalannya itu beliau ingin sekali menjebloskan Abu Nawas ke penjara. tapi baginda tidak memiliki alasan untuk melakukannya, karena orang seperti Abu Nawas bukanlah orang yang gampang dicari-cari kesalahannya.

Suatu hari baginda raja menemukan akal untuk menjebak Abu Nawas. Baginda berpikir pasti kali ini akan berhasil menghukum Abu Nawas. Baginda raja merencanakan sebuah perburuan di hutan dan mengajak serta Abu Nawas. Mendengar ajakan baginda raja untuk berburu, hati Abu Nawas merasai gelisah, karena ia sangat takut pada beruang. Namun ia tidak berani menolak ajakan baginda raja yang akan menghukum orang yang melawan perintahnya.

Hari yang direncanakan telah tiba. Cuaca pada hari itu sangat cerah, baginda raja dan pengawal kerajaan beserta Abu Nawas di dalamnya segera berangkat menuju hutan menunggangi kuda, ketika masih dalam perjalanan, tiba-tiba cuaca menjadi mendung. Baginda raja kemudian memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya.

Baginda raja berkata kepada Abu Nawas:

“Wahai Abu Nawas, tahukan engkau alasan aku memanggilmu?” Tanya baginda.

“Ampun baginda raja, hamba belum mengetauinya,”  Jawab Abu Nawas.

Baginda raja kemudian kembali menyambung perkataannya,

“Cuaca tiba-tiba mendung, mungkin akan segera turun hujan dan hutan masih amat jauh, sedang kita harus berkumpul di tempat peristirahatan pada waktu makan siang. Engkau akan kuberi seekor kuda yang lamban, aku dan para pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Tapi bila hujan turun kita harus bisa menghindari agar pakaian kita tidak basah, kita harus melakukan dengan cara kita sendiri, sekarang mari kita berpencar.”  Titah raja kepada Abu Nawas.

Abu Nawas pun segera menunggangi kuda yang lamban dan ia tertinggal di belakang. Abu Nawas merasa kecewa, namun ia sudah menyadari jika baginda raja ingin menjebaknya dengan mencari-cari kesalahannya. Sebab jika ia tidak bisa melaksanakan titah baginda maka ia akan mendapatkan hukuman, mungkin ia akan dijebloskan kepenjara, karena itulah alasan baginda raja mengajaknya. mungkin untuk pembalasan atas penghancuran barang-barang baginda yang ia lakukan pikirnya.

Hujan tiba-tiba turun, baginda raja dan pengawalnya segera memacu kuda mereka yang cepat menuju tempat berteduh sementara. Namun  hujan yang begitu lebat tidak bisa dihindari, mereka sudah lebih dulu basah kuyup sebelum tiba di tempat berteduh. Akhirnya ketika waktu makan siang tiba, berangkatlah baginda raja dan pengawalnya untuk makan siang menuju tempat peristirahatan mereka dengan pakaian yang  masih basah. Akan tetapi belum lama mereka sampai di sana menyusullah Abu Nawas dengan kuda lambannya. Baginda raja dan pengawalnya dibuat bingung melihat Abu Nawas yang menyusul begitu cepat dan dengan pakaian yang masih kering. Mereka heran atas hal yang mereka anggap mustahil, tapi bisa dilakukan Abu Nawas.

Pada hari berikutnya baginda raja memberikan Abu Nawas seekor kuda yang cepat larinya, sedang beliau beserta pengawalnya menunggangi kuda yang lamban. Setelah mereka berpencar, cuaca pun tiba-tiba menjadi mendung dan hujan segera turun. Baginda raja dan pengawalnya basah kuyup tidak bisa menghindari hujan karena kuda tunggangan mereka sangat lamban. Abu Nawas segera memacu kudanya cepatnya menuju tempat peristirahatan dan ia lebih dulu sampai di sana dari rombongan baginda raja. Ketika baginda dan pengawalnya tiba dengan pakaian yang masih basah, mereka pun semakin bingung dan penasaran melihat Abu Nawas yang masih kering bajunya.

Baginda raja yang sudah sangat penasaran langsung bertanya kepada Abu Nawas:

“Wahai Abu Nawas, Aku sangat penasaran bagaimana kamu bisa menghindari hujan, sebab meski kita terpencar ketika hujan datang kita masih sama-sama dalam perjalanan dan engkau sama sekali tidak basah, begitui juga ketika kami menunggangi kuda yang cepat, akan tetapi kami tetap tidak bisa mencapai tempat berteduh, apalagi dengan tunggangan yang lamban ini tentu saja akan membuat kami kebasahan.”

Abu Nawas tersenyum mendengar pertanyaan baginda yang sudah sangat penasaran padanya, ia lalu menjawab:

“Mudah sekali baginda raja, Hamba sebenarnya tidak menghindar dari hujan. Tapi ketika hujan datang hamba cepat-cepat membuka pakaian dan melipatnya, kemudian hamba langsung mendudukinya sehingga pakaian hamba tetap kering. Dan ketika hujan berhenti hamba kemudian memakainya lagi.”



Sandal ajaib

Suatu hari, Abu Nawas berangkat menuju pasar untuk berjualan mencari rezeki tambahan. Sesampainya di pasar ia langsung menggelar tikar sebagai lapaknya berjualan. Kebetulan pada hari itu ia berjualan sandal yang diberi nama "ajaib"

Abu Nawas mulai berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya kepada para orang-orang di pasar.

"Sandal ajaib...sandal ajaib....sandal ajaib !!" Teriak Abu Nawas berkali-kali di pasar.

Sesaat kemudian datang seorang pemuda menghampirinya dan melihat-lihat barang dagangannya.

"Silahkan Tuan, mau membeli sandal?" Tanya Abu Nawas.

"Ya,,,apakah ini sandal ajaib?" Tanya pemuda.

"Tentu saja tuan." Jawab Abu Nawas.

"Saya ingin mencari sandal yang bisa merubah hidupku yang miskin ini." Kata pemuda itu.

"Apa maksud tuan?" Tanya Abu Nawas lagi.

"Saya ini sudah lama hidup miskin dan ingin sekali kaya raya. Saya ingin membeli barang yang bisa memberikan saya keberuntungan." Kata pemuda itu.

Sejurus kemudian Abu Nawas menunjukkan salah satu sandal ajaibnya. Ia mengatakan bahwa sandal itu akan membuat pemiliknya dari tidak berada menjadi berada.

Karena tertarik dengan kata-kata Abu Nawas, tanpa berpikir panjang pemuda itu langsung membeli sandal ajaib yang dijual Abu Nawas.

Pemuda itu langsung memakai sandal ajaib tersebut kemudian meninggalkan Abu Nawas dan berkeliling kampung dengan harapan semoga keberuntungan segera berpihak kepadanya.

Pemuda tersebut terus menerus berjalan mengitari kampung-kampung dengan menggunakan sandal "ajaib"nya tersebut. Namun, harapannya tidak kunjung terwujud juga. Bukannya keberuntungan, si pemuda malah mendapat kemalangan. Ia hampir saja dihakimi warga, karena dikira pencuri yang sedang wara-wiri mengintai mangsa.

Hari sudah menjelang sore, dengan perasaan marah dan kecewa ia akhirnya mencari Abu Nawas meminta pertanggungjawabannya. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya ia menemukan Abu Nawas.

"Assalamu'alaikum..." Sapa pemuda itu.

"Wa'alaikum salam..., eh ternyata Tuan, bagaimana kabar Tuan?" Tanya Abu Nawas.

"Kabar buruk. Aku tidak merasakan keberuntungan apa-apa setelah memakai sandal ini.Malahan hampir saja aku celaka dihajar warga kampung gara-gara dikira pencuri. padahal engkau sudah mengatakan jika sandal ini akan membawa keberuntungan kepada pemiliknya. Mana buktinya??" Protes si pembeli.

"Seingat saya,  tidak pernah saya mengatakan seperti itu Tuan?" Sanggah Abu Nawas.

"Saya hanya mengatakan bahwa sandal ini akan membuat orang yang tidak berpunya menjadi berpunya. buktinya adalah tuan sebelumnya belum memiliki sanda "ajaib" sekarang sudah memilikinya." Kata Abu Nawas.

Mendengar penjelasan Abu Nawas, pemuda itu diam, ia akhirnya sadar bahwa dirinya sedang salah menafsirkan.

"Lalu mengapa engkau mengatakan bahwa sandal ini ajaib?" Tanya pemuda.

"Oh....jika itu memanglah namanya sandal Ajaib bukan sandalnya yang ajaib." Jawab Abu Nawas.

"Jangan percaya kepada barang ajaib, karena percaya pada sesuatu selain Allah SWT bisa membuat kita syirik dan akan mendapatkan kesusahan di dunia dan akhirat kelak. Buktinya yang Tuan alami ini hari ini, oleh karena itu, segeralah bertobat kepada Alloh SWT." Tambah Abu Nawas.

Akhirnya dengan perasaan malu, pemuda itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Ia menya dari jika ia telah melakukan kesalahan karena mengharap sesuatu kepada selain Allah SWT dan tanpa berusaha, mulai saat itu pun ia langsung bertobat.



Abu nawas bersikap seperti orang gila

Pada suatu hari ayah Abu Nawas bernama Maulana yang sudah tua dan sakit parah dan akhirnya meninggal dunia di istana, ayah Abu Nawas adalah seorang kadi kerajaan yang juga menghambakan diri pada Baginda Raja  Harun Al Rasyid .

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah baginda untuk mengubur jenazah ayahnya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, melihat itu, maka baginda pun bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi pengganti ayahnya sebagai kadi kerajaan.

Kabar tentang akan dipilihnya sebagai kadi mengantikan ayahnya pun sampai ketelinga Abu Nawas. setibanya dirumah setelah selesai dari upacara pemakaman ayahnya, Abu Nawas pun tiba-tiba mulai bertingkah aneh tidak seperti biasanya. Abu  Nawas mengambil sepotong batang pisang dan mulai menunggangi pohon tersebut layaknya kuda sambil berlari lari, berteriak-teriak.

Melihat tingkah aneh Abu Nawas, orang-orang pun merasa sangat heran dan banyak diantara mereka menyangka jika Abu Nawas sudah gila.

Pada hari berikutnya, Abu Nawas mengajak anak-anak kecil beramai-ramai menuju makam ayahnya dengan membawa segala macam alat-alat permainan. Sesampai di makam tersebut ia kemudian mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita di atas kuburan ayahnya. Semua orang pun semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap jika Abu Nawas sudah benar-benar menjadi gila karena kematian ayahnya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Baginda Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas, alangkah terkejutnya mereka melihat tingkah Abu Nawas yang sudah berubah, salah satu dari mereka pun berkata menyampaikan perintah baginda,

"Hai Abu Nawas kami diutus untuk membawa mu untuk menghadap ke istana,"  kata utusan baginda.

"Buat apa baginda memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya,"  jawab Abu Nawas dengan enteng.

"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu," kata utusan.

"Hai tuan utusan, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." Kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Para utusan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh Abu Nawas.

"Abu Nawas, kau mau apa tidak menghadap baginda?"  Kata utusan.

"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau."  Kata Abu Nawas.

"Apa maksudnya Abu Nawas?"  Tanya utusan penasaran.

"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu,"  sergah Abu Nawas sembari menyaruk pasir debu dan melemparnya ke arah para utusan. Mereka pun segera pergi  meninggalkan Abu Nawas dan melaporkan kejadiannya pada baginda raja. Baginda begitu marah mendengar laporan utusan,

"Kalian bodoh semua, menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak bisa! Cepat kembali ke rumah Abu Nawas, bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa." Perintah baginda.

Para utusan pun kembali kerumah Abu Nawas dengan mengajak beberapa prajurit istana. Mereka kemudian membawa Abu Nawas dengan paksa dan dihadapkan pada baginda.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas bertingkah aneh bahkan tambah ugal-ugalan, layaknya seorang yang benar-benar sudah gila.

"Abu Nawas bersikaplah sopan!"  Tegur Baginda.

"Ya Baginda, Baginda tahukah Anda....?"

"Apa Abu Nawas...?" Tanya baginda.

"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"

"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !" Kata baginda marah.

"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"

Baginda merasa dilecehkan, ia pun naik pitam dan segera memerintah kepada para pengawalnya untuk memukul Abu Nawas sebanyak 25 kali.

Abu Nawas akhirnya lemas tak berdaya dipukuli pengawal raja. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar dari istana.

Abu Nawas pun segera beranjak keluar istana, tetapi ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh seorang penjaga.

"Hai Abu Nawas! Tempo hari dulu ketika kau hendak masuk ke kota ini kita pernah membuat perjanjian. Aku yakin engkau tidak lupa dengan janji mu bahwasanya jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berjanji akan membagi dua dengan ku. Nah, sekarang mana bagianku itu?" Tanya penjaga pintu gerbang.

"Hai penjaga, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah  yang diberikan baginda kepadaku tadi?"

"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?" Jawab penjaga.

"Baik, aku akan berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!" Kata Abu Nawas.

"Ternyata kau sangat baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, engkau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda." Kata penjaga itu gembira.

Tanpa banyak bicara lagi Abu Nawas langsung mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu penjaga itu dipukulinya sebanyak 25 kali. Penjaga itu menjerit-jerit kesakitan sampai lemah lunglai dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila. Setelah selesai  Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada baginda raja.

"Ampun beribu ampun tuanku. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul  hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda." Kata penjaga itu.

Baginda pun segera memerintahkan pengawal untuk membawa Abu Nawas. Setelah Abu Nawas dihadapkan ia ditanya,

"Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penjaga gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?" Tanya baginda.

Dalam keadaan masih berpura-pura gila, Abu Nawas menjawab,

"Baginda, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu." 

"Apa maksudmu? Coba engkau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" Tanya baginda.

"Hamba dan penjaga pintu gerbang ini telah membuat perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk hamba. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka hamba berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya." Jawab Abu Nawas sambil tertawa-tawa bak orang gila.

"Hai penjaga pintu gerbang, benarkah engkau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" Tanya baginda.

"Benar Tuanku," jawab penunggu pintu gerbang.

"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan padanya." Tambah penjaga itu.

"Hahahahaha.....Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!" Sahut Baginda.

"Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa engkau adalah orang yang suka memeras orang! jika perilakumu masih begitu, maka aku akan memecat dan menghukummu.!" Kata baginda.

"Ampun Tuanku," sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas kemudian berkata,

"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba dibawa paksa kesini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan baginda. Padahal besok hamba harus mencari nafkah."

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak,

"Hahahaha...Jangan kuatir Abu Nawas." Kata baginda.

Baginda kemudian memberikan sekantong dinar kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira tapi tetap bertingkah seperti orang gila.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya mengenai Abu Nawas yang rencananya akan diangkat menjadi kadi kerajaan.

"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?" Tanya baginda.

Salah satu menteri berkata,

"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin aneh tingkahnya, maka sebaiknya  tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."

berkata menteri lain,

"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."

Semua menteri memberikan pendapat yang sama.

"Baiklah, kita tunggu dulu sampai 21 lagi, karena sekarang bapaknya baru saja meninggal dunia. Jika selama 21 hari lagi tidak sembuh-sembuh juga barulah kita akan memilih orang lain saja." Kata baginda.

Sebulan lebih waktu berjalan, namun Abu Nawas masih bertingkah gila, maka baginda pun mengangkat orang lain menjadi kadi kerajaan. Konon kadi yang dipilih seseorang bernama Polan, tidak lain memang merupakan orang yang sangat berambisi untuk menjadi kadi. Karena Abu Nawas tidak jadi diangkat, si Polan pun mempengaruhi orang-orang di sekitar baginda untuk memilih dan mengangkatnya menjadi kadi.

Begitu mendengar jika kadi baru sudah diangkat, Abu Nawas pun kembali bersikap normal. Ia sangat bersyukur karena terlepas dari bala yang mengerikan. Akan tetapi ia sedikit menyesali karena ia mengatahui bahwa kadi yang dipilih memiliki perangai buruk.

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila?

Ceritanya pada suatu hari ketika ayahnya Abu Nawas yang sudah tua dan mulai sakit parah, Abu Nawas dipanggil untuk menemui ayahnya tersebut, karena ayahnya ingi menyampaikan beberapa pesan padanya sebulum meninggal dunia.

Berkata ayahnyanya,

"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang cobalah engkau cium telinga kanan dan telinga kiriku ini."

Abu Nawas segera menuruti permintaan ayahnya. la mencium telinga kanan bapaknya, ternyata mengeluarkan bau harum,  sedangkan yang sebelah kiri mengeluarkan bau  busuk.

"Bagamaina anakku? Sudah kau cium? Ceritakankan dengan sejujurnya, bau kedua telingaku ini." kata ayahnya.

"Sungguh mengherankan, yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri baunya amat busuk?" Kata Abu Nawas heran.

"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?" tanya ayahnya.

"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepadaku." Kata Abu Nawas.

Ayahnya kemudian berkata,

"Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tidak suka maka tidak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi kadi (penghulu). Jia kelak kau suka menjadi kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar engkau tidak dipilih sebagai kadi oleh Baginda Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak baginda pastilah akan tetap memilihmu sebagai Kadi." Jelas ayah Abu Nawas.

Dari pesan ayahnya itulah Abu Nawas sudah mempersiapkan rencana yang matang, jika nanti ayahnya telah tiada. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi  kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun  Abu Nawas tidak menjadi kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh baginda raja untuk memutus suatu perkara.  Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan baginda raja yang  aneh-aneh dan tidak masuk akal.



paduka telah memberiku kuah aku akan membalasnya dengan isinya

Suatu hari baginda ingin mengadakan pesta di istananya, ia berencana mengundang semua pembesar-pembesar negeri dan juga pembesar-pembesar negeri tetangga. Tetapi, pesta yang akan diadakan kali ini sangat lah berbeda, karena baginda raja menyelipkan sebuah rencana untuk mengerjai Abu Nawas dan kali ini baginda sangat yakin jika Abu Nawas akan masuk ke dalam perangkap.

Tibalah pada hari yang sudah ditentukan untuk menggelar pesta. Seluruh undangan, termasuk Abu Nawas yang turut di undang berhadir di istana. ketika semua tamu undangan yang hadir sudah berkumpul, baginda memerintahkan pelayan istana untuk membasuh tangan dan kaki para undangan dengan air mawar nan harum. Satu persatu tamu undangan yang hadir telah selesai dibasuh. Kini tinggallah giliran Abu Nawas,tidak pernah menyangka sebelumnya jika pada hari itu ia akan menjadi bahan tertawaan baginda dan pata undangan yang berhadir. Sepertinya baginda memang sudah menyusun rencana tersebut dengan sangat matang. Baginda sengaja memerintahkan kepada para pelayan istana agar Abu Nawas mendapat urutan terakhir. Diam-diam baginda terus memperhatikan Abu Nawas.

Pas ketika giliran Abu Nawas dibasuh tangan dan kakinya, pelayan langsung membasuh dengan air kencing unta yang dicampur dengan bunga-bunga yang sudah disiapkan sebelumnya sesuai perintah baginda.Sontak saja seluruh tamu undangan yang undangan yang hadir merasa tidak nyaman dengan bau yang ditimbulkan dan sibuk mencari sumber bau tersebut. Akhirnya diketahuilah jika Abu Nawas yang menjadi sumber bau yang sangat tidak mengenakkan itu,ia pun dijauhkan dan ditertawakan oleh semua tamu yang hadir termasuk baginda raja sendiri yang senang bukan kepalang karena rencanannya berhasil.

Setelah menanggung tidak sanggup malu yang amat sangat dihadapan para tamu yang hadir, tanpa bicara apa-apa Abu Nawas langsung meninggalkan ruangan tamu menemui pelayan yang telah membuat dia malu tadi. Pelayan tersebut meminta maaf dan mengakui jika itu adalah perintah baginda raja. Mendengar penuturan pelayan, Abu Nawas sangat terkejut, tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika baginda akan menggunakan..............Abu Nawas pun bergegas meninggalkan istana dalam keadaan sangat kesal, dalam hati ia bergumam,

"Baiklah, hari ini paduka telah memberiku kuah tak sedap, esok hari aku akan membalasnya dengan isinya."

Setelah kejadian dipermalukan di istana dengan kencing unta, Abu Nawas menaruh rasa kesal yang bukan main terhadap baginda raja, sehingga sejak saat itu ia tidak pernah menginjakkan lagi kakinya di istana.

Karena sudah dua bulan Abu Nawas tidak terlihat di istana, Baginda raja pun merasa rindu akan tingkah polah dan cerita-cerita lucu dari Abu Nawas. Baginda pun mengutus pengawal untuk menghadirkan Abu Nawas ke Istana. Akan tetapi Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan baginda dengan alasan sakit parah dengan harapan baginda raja akan menjenguknya.

Khawatir dengan kondisi Abu Nawas, baginda pun menyempatkan diri untuk menengok Abui Nawas dengan diiringi para pengawal dan beberapa pejabat kerajaan.

Pucuk dicinta ulam tiba, begitu mendengar baginda raja menuju ke rumahnya, Abu Nawas langsung memasang aksi cerdasnya. Ia langsung meminta istrinya menyiapkan obat ajaib dengas berbentuk bulatan kecil-kecil.akan tetapi yang diantara bulatan-bulatan obat tersebut sudah diselipkan tinja yang memang sudah dipersiapkan Abu Nawas sebelumnya.

Abu Nawas langsung menuju pembaringan merobohkan badannya, memasang wajah pucat dan berpura-pura lemah lunglai seakan-akan ia benar-benar sakit.

Tidak berapa lama kemudian baginda sudah berada di depan pintu rumah dan langsung menemui Abu Nawas.Kesempatan itu langsung digunakan dengan menelan dua butir ajaib dihadapan baginda. Bagindapun penasaran dan bertanya,

"Wahai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?" Tanya baginda.

"Inilah yang disebut obat ajaib, resepnya hamba peroleh lewat mimpi tadi malam. Jika hamba menelan 2 butir niscaya akan sembuh." Jawab Abu Nawas yang kemudian langsung bisa bangun setelah menelan pil yang kedua.

"Benar kah itu, jika begitu, aku juga mau minum obat ajaib mu itu, barangkali bisa membuat badanku segar bugar setiap hari." Kata baginda bersemangat.

"Baiklah Tuanku, hamba tidak bisa menolak keinginan baginda. Baginda berbaringlah dulu dan pejamkan mata seperti hamba sekarang ini, tidak boleh duduk, apalagi berdiri." Kata Abu Nawas sambil mempraktekkan.

Baginda raja pun segera menuruti perintah Abu Nawas.

Begitu mata Raja terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan butiran kotoran tadi ke mulut baginda raja. Spontan saja baginda raja bangkit membelalakkan matanya.

"Hai Abu Nawas, Sepertinya engkau memberiku makan tinja ya, akan kuhukum berat engkau." Kata baginda.

Abu Nawas pun segera bersimpuh memberi hormat kepada baginda.

"Ampun baginda, apakah baginda masih ingat. Dua bulan yang lalu dalam sebuah pesta di istana baginda telah lebih dahulu memberi hamba kuahnya (kencing Unta), oleh sebab itu untuk membalas kebaikan baginda maka sekarang hamba memberi isinya (kotoran unta), Jikalau bukan karena kejadian itu, hamba tidak akan berani melakukan ini pada baginda. jika baginda bersikeras ingin menghukum hamba, maka kejadian ini akan hamba beritahukan kepada orang lain." Kata Abu Nawas.

merdengar penuturan Abu Nawas, baginda pun merasa risau takut jika orang mengetahui jika ia telah memakan kotoran unta atas perintah Abu Nawas.

"Baiklah Abu Nawas, karena kejahilanku kemarin maka aku memaafkanmu. Tapi engkau tidak boleh memberitahukan siapa-siapa tentang kejadian ini." Kata baginda.

"Ampun Baginda, jika itu yang baginda minta seperti itu, lain lagi ceritanya. Hamba minta 100 dinar sebagai biaya jaga rahasia." Jawab Abu Nawas.

"Dasar kau Abu Nawas." Kata baginda geram.

Baginda pun menyetujui permintaan Abu Nawas dengan menyerahkan pundi uang sebanyak 100 dinar, kemudian pamit pulang menuju istana bersama para pengikutnya.



Mengkap dan memenjarakan angin

Pada suatu hari Baginda Raja Harun Al Rasyd memanggil  Abu Nawas menghadap ke istananya. Setelah Abu Nawas tiba di istana dengan tersenyum baginda raja menyambutnya dan kemudian berkata kepada Abu Nawas,

“Wahai Abu Nawas, Akhir-Akhir ini perutku sering sakit, tabibku mengatakan jika aku terkena gangguan angin.”

“Mohon Ampun baginda, apa yang sudikiranya yang dapat hamba bantu?”  Tanya Abu Nawas kepada baginda raja.

Baginda lalu menjawab,

“Aku menginginkan agar kamu dapat menangkap angin untuk dipenjarakan, karena ia telah telah berani menggangguku. Dan aku memberimu waktu selama 3 hari untuk membawa angin kehadapanku.”  Kata baginda kepada Abu Nawas.

Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan istana untuk melaksanakan titah baginda raja. Namun ia sangat kebingungan dan berpikir bagaimana bisa ia bisa menangkap angin untuk dipenjarakan, sedang angin merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata.  Kali ini sungguh aneh permintaaan baginda, tiada henti-hentinya menjebak dirinya. Nampaknya kali ini baginda akan berhasil mendapatkan celah untuk menghukum dirinya, pikir Abu Nawas. Tapi Abu Nawas tidak putus asa, ia terus berpikir mencari jalan keluar walaupun menangkap angin merupakan suatu pekerjaan mustahil. Karena ia bukanlah suatu benda yang dapat disentuh dan sama sekali tidak dapat dilihat meski keberadaannya ada dimana-mana.

Sudah 2 hari berjalan sejak perintah baginda, Abu Nawas belum juga berhasil menangkap angin maupun menemukan cara untuk menangkapnya. Hingga hari ke tiga ketika ia sedang berjalan-jalan dengan hati yang hampir berserah diri menerima hukuman baginda. Tiba-tiba ia teringat akan kisah Aladin dan Jinnya yang terkurung di dalam  lampu ajaib. Abu Nawas pun menemukan ide yang akan menyelamatkan dirinya dari hukuman baginda raja. ia sangat gembira segera berlari pulang kerumah mempersiapkan semua keperluan untuk menghadap sang baginda raja.

Setelah semuanya siap, Abu Nawas langsung menuju istana untuk menghadap. Di sana baginda raja telah menunggu ingin melihat hasil kerjanya. Baginda raja langsung bertanya kepada Abu Nawas,

“Wahai Abu Nawas, sudahkah engkau melaksanakan perintahku untuk menangkap dan memenjarakan angin?”

“Sudah baginda raja,”  jawab Abu Nawas.

“Coba perlihatkan, aku sangat ingin melihat hasil kerjamu,”  Kata baginda.

Abu Nawas kemudian menyerahkan sebuah botol kaca yang tertutup kepada baginda raja.

Setelah menerima botol tersebut, baginda kemudian bertanya pada Abu Nawas,

“Dimana angin itu, aku tidak melihat apa-apa di dalam sini?”

Berkata Abu Nawas,

“Ampun yang mulia baginda raja, angin tidaklah dapat dilihat dengan mata. Tetapi jika tuanku baginda ingin mengetahui keberadaannya maka bukalah penutup botol itu.”

Tanpa berpikir panjang, baginda raja langsung membuka penutup botol itu dan tiba-tiba ia mencium bau busuk yang keluar dari botol tersubut.

Dengan nada yang marah baginda bertanya kepada Abu Nawas,

“Hai Abu Nawas, bau apa yang keluar dari sini?”

Dengan nada ketakutan kemudian Abu Nawas menjawab,

“Mohon Ampun baginda raja, tadi hamba juga mengalami gangguaan angin pada perut hamba dan ketika ia hendak keluar maka hamba langsung memasukkannya ke dalam botol. Agar ia tidak melarikan diri maka hamba segera memenjarakannya dengan menyumbat mulut botol itu untuk menutupnya.”

Mendengar penjelasan Abu Nawas, baginda tidak jadi memarahi dan menghukumnya meski beliau telah diberi kentut oleh Abu Nawas, karena alasan yang diberikan cukup masuk akal untuk sebuah pekerjaan aneh. Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan istana dengan hati gembira karena ia lelah lolos dari jebakan dan hukuman baginda raja.



mimpi paling indah

Suatu hari seorang Yogis (Ahli Yoga) dan seorang Pendeta bersekongkol ingin memperdaya Iman Abu Nawas dalam sebuah pengembaraan. Setelah semua rencana siap disusun, mereka berangkat menemui Abu Nawas di kediamannya.

Ketika mereka datang Abu Nawas sedang melakukan salat dua rakaat. Setelah dipersilahkan masuk oleh istri Abu Nawas mereka masuk dan menunggu sambil berbincang-bincang santai.

Seusai salat Abu Nawas menyambut mereka. Abu Nawas dan para tamunya bercakap-cakap sejenak. Mulailah mereka menyampaikan maksud mereka,

 "Wahai Abu Nawas, kami berdua sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalau engkau tidak keberatan bergabunglah bersama kami." Kata Ahli  Yoga.

"Dengan senang hati. Lalu kapan rencananya?" Tanya Abu Nawas polos.

"Besok pagi." Kata Pendeta.

"Baiklah kalau begitu kita bertemu di warung teh besok." Kata Abu Nawas menyanggupi.

Hari berikutnya mereka bertemu di warung teh. Setelah semua berkumpul mereka pun mulai berangkat. Di tengah perjalanan mereka mulai diserang rasa lapar. Akan tetapi mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan, dan sesuai kesepakatan sebelumnya mereka juga tidak boleh sarapn sebelum berangkat.

Karena dari awal mereka memang sudah sepakat untuk tidak membawa bekal. Maka satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa lapar adalah dengan mencari derma.

"Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang mengumpulkan derma guna membeli makanan untuk kita bertiga. Karena kami akan mengadakan kebaktian." Kata Pendeta.

Tanpa banyak bicara Abu Nawas berangkat mencari dan mengumpulkan derma dari rumah satu ke rumah lain. Setelah derma terkumpul, Abu Nawas membeli makanan yang cukup untuk tiga orang. Abu Nawas kembali ke Pendeta dan Ahli Yoga dengan membawa makanan. Karena sudah tidak sanggup menahan rasa lapar Abu Nawas berkata,

"Mari segera kita bagi makanan ini sekarang juga."

Jangan sekarang. Kami sedang berpuasa." Kata Ahli Yoga.

"Tetapi aku hanya menginginkan bagianku saja sedangkan bagian kalian terserah pada kalian." Kata Abu Nawas menawarkan jalan keluar.

"Aku tidak setuju. Kita harus seiring seirama dalam berbuat apa pun." Kata Pendeta.

"Betul aku pun tidak setuju karena waktu makanku besok pagi. Besok pagi aku baru akan berbuka." Kata Ahli Yoga.

"Bukankah aku yang engkau jadikan alat pencari derma dan derma itu sekarang telah kutukar dengan makanan ini. Sekarang kalian tidak mengijinkan aku mengambil bagian sendiri. padahal aku sudah sangat lapar dan lelah demi kalian, kenapa kalian tidak menghargai itu." Kata Abu Nawas mulai merasa jengkel.

Namun begitu Pendeta dan Ahli Yoga tetap bersikeras tidak mengijinkan Abu Nawas mengambil bagian yang menjadi haknya, meski Abu Nawas sudah terlihat sangat lapar ditambah lelah karena disuruh mencari derma.

Abu Nawas pun terus berusaha meyakinkan kawan-kawannya agar mengijinkan ia memakan bagianya. Tetapi mereka tetap saja menolak. Abu Nawas benar-benar merasa jengkel dan marah. Namun Abu Nawas tidak memperlihatkan sedikit pun kejengkelan dan kemarahannya.

"Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian." Kata Pendeta kepada Abu Nawas.  

"Perjanjian apa?" Tanya Abu Nawas.  

"Kita adakan lomba. Barangsiapa di antara kita bermimpi paling indah maka ia akan mendapat bagian yang terbanyak yang kedua lebih sedikit dan yang terburuk akan mendapat paling sedikit." Pendeta itu menjelaskan.  

Abu Nawas setuju. la tidak memberi komentar apa-apa. Ia sudah tahu jika itu memang akal bulus yang sudah mereka rencanakan untuk menjebaknya. dan yang jelas mereka pasti tidak akan mengakui tentang kehebatan mimpi Abu Nawas nantinya. Oleh sebab itu ia pun mulai memikirkan jalan keluarnya.

Hari pun mulai malam, embun mulai turun ke bumi. Pendeta dan Ahli Yoga mengantuk dan tidur. Karena perut lapar Abu Nawas tidak bisa tidur. la hanya berpura-pura tidur. Setelah merasa yakin kawan-kawannya sudah terlelap, Abu Nawas menghampiri makanan yang sudah dibeli tadi. Tanpa berpikir dua kali Abu Nawas langsung melahap habis bersama makanan bagian kawan-kawannya hingga tidak tersisa sedikit pun. Setelah merasa kekenyangan Abu Nawas baru bisa tidur.

Keesokan hari mereka bangun hampir bersamaan. Ahli Yoga dengan wajah berseri-seri langsung bercerita,

"Tadi malam aku bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirvana. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dalam hidup ini."

Pendeta mengatakan bahwa mimpi Ahli Yoga benar-benar menakjubkan. Betul-betul luar biasa. Kemudian giliran Pendeta menceritakan mimpinya.

"Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Dan temyata memang benar. Aku secara tidak sengaja berhasil menyusup ke masa silam dimana pendiri agamaku hidup. Aku bertemu dengan beliau dan yang lebih membahagiakan adalah aku diberkatinya."  

Ahli Yoga juga memuji-muji kehebatan mimpi Pendeta, Abu Nawas hanya diam. la bahkan tidak merasa tertarik sedikitpun. Karena Abu Nawas belum juga buka mulut, Pendeta dai Ahli Yoga mulai tidak sabar. Mereka pun menanyakan mimpi yang dialami Abu Nawas. Abu Nwas pun mulai bercerita,

"Kalian tentu tahu Nabi Daud alaihissalam. Beliau adalah seorang nabi yang ahli berpuasa. Tadi malam aku bermimpi berbincang-bincang dengan beliau. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Aku katakan aku berpuasa karena aku memang tidak makan sejak dini hari Kemudian beliau menyuruhku segera berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani mengabaikan perintah beliau. Aku segera bangun dari tidur dan langsung menghabiskan makanan itu." Kata Abu Nawas tanpa perasaan bersalah sedikit pun.  

Sambil menahan rasa lapar yang menyayat-nyayat Pendeta dan Ahli Yoga saling berpandangan satu sama lain. Mau tidak mau mereka harus mengakui kehebatan mimpi Abu Nawas meski dengan rasa lapar yang sangat mencekam dan perasaan menyesal yang amat sangat karena telah berani mempermainkan Abu Nawas.



Menentukan pemilik bayi

Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda. Entah sudah berapa hari kasus seorang anak bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama sangat ingin memiliki anak. Hakimpun rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang menjadi ibu bayi itu sebenarnya.

Kasus ini sudah berlarut-larut tanpa ada keputusan yang jelas, hakim akhirnya menghadap Baginda Raja untuk meminta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah  anaknya. Baginda pun putus asa.

Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan. Baginda pun berpikir mungkin perlu memanggil Abu Nawas meminta bantuannya. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang  mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan oleh hal lain, yaitu seorang algojo yang harusnya masuk dalam taktik Abu Nawas tidak berada di tempat.

Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggil algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.

"Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?" Kata kedua perempuan itu saling memandang.

"Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?" Kata Abu Nawas.

"Tidak, bayi itu adalah anakku!!" Kata kedua perempuan itu serentak.

"Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata dan membaginya kepada kalian."  Kata Abu Nawas mengancam dengan spontan.

Perempuan pertama girang bukan kepalang, setuju akan tindakan yang akan dilakukan Abu Nawas, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris.

"Jangan, tolong jangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu." Kata perempuan kedua.

Abu Nawas tersenyum lega. pemilik sebenarnya bayi tersebut sudah diketahui. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsung menyerahkan kepada perempuan kedua.

Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tidak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata.

Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Sebagai rasa terima kasih, Baginda memberikan sejumlah hadiah atas bantuannya yang sangat berguna.



Taktik menyembuhkan raja

Suatu hari Baginda Raja Harun Al Rasyid diserang penyakit yang sangat aneh. Tubuhnya terasa kaku dan pegal semua. Suhu badannya naik dan dia tak kuat untuk melangkah. Kondisi ini membuat baginda tidak nafsu makan sehingga sakitnya bertambah parah. Bermacam tabib sudah didatangkan ke istana untuk mengobati baginda, tetapi tidak satupun berhasil.

Baginda raja tidak mau menyerah begitu saja. Tekad beliau untuk segera sembuh dan beraktivitas lagi sangatlah besar. baginda akhirnya membuat sebuah pengunguman sayembara, barang siapa dapat menyembuhkan baginda, maka dia akan diberi hadiah yang besar.

Berita sayembara itu pun sampai ke telinga oleh Abu Nawas,  ia pun tertarik untuk mengikutinya. Ia mulai memutar otaknya memikirkan cara menyembuhkan baginda raja.

Tidak berapa lama kemudian ia menuju istana untuk mengajukan diri mengobati baginda raja. Baginda sangat terkejut melihat pengajuan diri Abu Nawas, mengingat ia bukanlah tabib. Rasanya Abu Nawas tidak mungkin dapat mengobati baginda.

"Wahai Abu Nawas, setahuku kamu itu bukan seorang tabib, tapi mengapa engkau mengikuti sayembara ini?" Tanya baginda heran.

Abu Nawas hanya tersenyum mendengar pertanyaan baginda, dengan segala kecerdasan pikirannya, akhirnya Abu Nawas berhasil meyakinkan baginda untuk mempercayainya. Abu Nawas memulai dengan menanyakan kondisi baginda, mengobservasi dan menganalisa penyakit yang dialami baginda.

Baginda mengeluhkan kepada Abu Nawas jika ia tidak mengerti apa penyakit yang sedang ia alami, karena belum ada satu orang tabib pun yang berhasil mengobatinya. Ia mengeluhkan rasa sakit dan panas disekujur tubuhnya.

Abu Nawas tertawa ketika mendengar keluhan sakit baginda.

Baginda pun merasa tersinggung dengan respon Abu nawas tersebut,

"Hai Abu Nawas, kenapa engkau tertawa mendengar keluhanku?" Tanya baginda kesal.

"Tidak Paduka, kalau penyakit seperti itu gampang sekali menemukan obatnya." Jawab Abu Nawas.

Raja pun terkejut mendengar jawaban Abu Nawas, beliau kemudian bertanya,

"jadi apa obatnya dan dimana kita bisa menemukannya?"

"Oh,, Obatnya adalah telur unta, paduka raja bisa mendapatkannya di kota Baghdad. Tapi ada syaratnya?" Jelas Abu Nawas.

"Apa syaratnya?" Tanya baginda.

"Syaratnya adalah, baginda sendiri yang harus menemukan obat tersebut bukan mengutus orang lain." Jelas Abu Nawas.

Tanpa pikir panjang, baginda pun menerima syaratnya. Baginda segera bergegas  menuju Bagdad menyamar sebagai rakyat biasa dan dikawal oleh beberapa pengawal kerajaan yang juga menyamar.

Sesampai di kota Bagdad, mereka mengitari seluruh sudut pasar mencari penjual telur unta. Namun mereka tidak pernah kunjung menemukan telur unta yang dicari. Baginda dan para pengawal terus berusaha mencari tetapi hanya mendapatkan kelelahan, keletihan dan keringat saja. Baginda mulai menggerutu memikirkan hukuman yang akan diberikan kepada Abu Nawas karena meminta ia mencari obat yang tidak pernah ditemukan.

Baginda dan pengawal pun bergegas kembali ke istana, ketika segera hendak berangkat ia melihat seorang kakek tua yang sedang berjalan, baginda segera mencegatnya.

"Tunggu Kek, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya baginda.

"ya boleh." jawab si Kakek.

"Dimana saya dapat menemukan telur unta?" Tanya baginda.

"Telur unta?" Si kakek kemudian terdiam sejenak lalu tertawa lebar.

Si kakek pun menjelaskan jika tidak ada telur Unta di dunia ini. Ia mengatakan jika hewan yang memiliki daun telinga itu melahirkan, bukan bertelur. Baginda dan dan para pengawal tersentak kaget bukan kepalang mendengar penjelasan si kakek. Dalam keadaan murka pada Abu Nawas karena telah mempermainkannya, baginda segera kembali ke istana.

Keesokan paginya Abu Nawas segera dihadirkan untuk menghadap.

"Hai Abu Nawas, berani sekali kamu mempermainkan aku, bukankah unta tidak bertelur?" Ujar sang raja marah.

"Betul, paduka." Jawab Abu Nawas.

Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Abu Nawas, baginda langsung memerintahkan pengawal untuk memberikan hukuman berat kepada Abu Nawas.

"Tunggu dulu baginda, sebelum baginda menghukum hamba, bolehkah hamba bertanya bagaimana kabar baginda sekarang?" TanyaAbu Nawas.

"Alhamdulillah, Aku sangat sehat sekarang dan begitu bersemangat ingin segera memberi hukuman padamu." Jawab baginda tanpa menyadari jika itu adalah pertanyaan jebakan Abu Nawas.

"Berarti hamba berhasil menyembuhkan paduka ya!!" Jawab Abu Nawas.

Baginda Raja terdiam, ia mulai menyadari jika sebelumnya adalah taktik Abu Nawas menyembuhkan dirinya meskipun dengan cara yang tidak masuk akal. Baginda pun tidak dapat berkata apa-apa selain mengakui kecerdikan Abu Nawas dan memberi hadiah atas keberhasilannya dalam sayembara menyembuhkan raja. Selama ini ia tidak sadar jika ia bukanlah sakit parah dan akan sembuh jika ia sering berolah raga menjaga kesehatannya.



Satu pertanyaan tiga jawaban

Suatu hari dalam sebuah diskusi bersama dengan para murid-muridnya, Abu Nawas tiba-tiba dicecar pertanyaan oleh beberapa muridnya dengan pertanyaan yang sama.

Mula-mula salah seorang muridnya bertanya,

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil?”

“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.” Jawab Abu Nawas.

“Mengapa?” Tanyanya kembali.

“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan.” Kata Abu Nawas.

Murid pertama puas dengan jawaban Abu Nawas karena ia memang yakin begitu.

Kemudian murid kedua menanyakan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya di atas,

“Orang yang tidak mengerjakan keduanya.” Jawab Abu Nawas.

“Mengapa?” Tanya murid kedua.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan!” Kata Abu Nawas.

Murid kedua langsung bisa menerima dan memahami jawaban Abu Nawas tersebut.

Kembali murid ketiga bertanya dan masih dengan pertanyaan yang sama sebelumnya. Abu Nawas pun kembali menjawab,

“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar.”

“Mengapa?” Kata murid ketiga.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu.” Jawab Abu Nawas.

Murid ketiga itu puas dengan jawaban Abu Nawas. Akan tetapi Abu Nawas kembali ditanyai oleh beberapa murid lain yang belum memahami jawaban-jawaban Abu Nawas tersebut,

“ Wahai guru!. Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”

“ Itu karena manusia itu dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati.” Jawab Abu Nawas

“Apakah tingkatan mata itu?” Tanya murid kembali.

“ Anak kecil yang melihat bintang dilangit, ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.”

“Apakah tingkatan otak?” Tanya murid Abu Nawas.

“ Orang pandai yang melihat bintang, ia mengatakan bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan.” jawab Abu Nawas.

“Lalu apakah tingkatan hati itu?” Tanya mereka kembali.

“ Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar, melainkan dengan ke Maha Besaran Allah.” Jawab Abu Nawas.

Kini para murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.

Postingan populer dari blog ini

Semua makhluk mendengar azab kubur, kecuali jin dan manusia

Keharusan Taubat dan diterimanya sebelum sekarat

Meminta rahmat-Nya dan meminta setetes dari samudra kasih sayang

Suatu perkara yang amat besar dan mengerikan

Allah akan langsung bertanya dengan seorang hamba tanpa penerjemah

Mahfudzot kata mutiara yang bisa menjadi motivasi

Disambutnya ruh baik dan ruh busuk

Dzikir shalat fardhu

Tentang Su ul khatimah dan hadirnya setan ketika sekarat

Dzikir dzikir pilihan